Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Minat Pembaca Menurun, Beginilah Nasib Buku di Era Digitalisme

Tidak bisa dipungkiri bahwa minat pembaca saat ini memang menurun. Sebagian dari mereka lebih memilih memainkan gadgetnya, dari main game sampai bertukar pesan melalui sosial media. Waktu mereka terbuang untuk menciptakan ruang gerak hanya pada digitalisme saja. Hal itu memang mengkhawatirkan, lalu apa yang terjadi selanjutnya? Mari lihat sejenak nasib buku jika minat pembaca semakin menurun.

Nasib Buku jika Minat Pembaca akan Terus Menurun

Sebenarnya saat ini sudah cukup terlihat dari sepinya toko buku besar yang dulunya sempat ramai ketika dunia belum dikuasai oleh digitalisme. Mungkin hal tersebut tidak akan mempengaruhi profesi penulis karena mereka tetap menghasilkan karyanya dalam bentuk digital, namun buku-buku yang sebenarnya mempunyai manfaat sangat baik bagaimana nasibnya. Berikut akan dijelaskan sedikit nasib buku jika peminat semakin menurun.

1. Menjadi Tumpukan Kertas yang Tidak Dihargai

Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa satu lembar halaman buku mempunyai nilai sanga berharga bagi penulisnya. Namun jika peminatnya semakin menurun, kemungkinan besar nasib buku-buku tersebut hanya akan menjadi tumpukan kertas tidak dihargai. Meskipun di seluruh dunia masih ada penggemar buku fisik, namun toko buku tidak akan bisa laba dari segelintir pembeli.

Hal tersebut karena satu konsumen tidak akan membeli setiap buku yang ada disana, sedangkan pengeluaran mereka tetap berjalan. Oleh sebab itulah pada akhirnya toko buku tersebut pailit lalu buku-bukunya hanya akan menjadi tumpukan saja, bahkan mungkin dibagikan gratis seperti barang tak berharga sama sekali.

2. Di Masa Depan Semua Buku dalam Bentuk Digital

Source : liputan6.com
Source : liputan6.com

Tidak perlu melihatnya di masa depan, saat ini saja sudah begitu terlihat bagaimana semua buku dalam bentuk digital. Penulis berbakat mulai ditawarin menulis untuk website, hingga menghasilkan cerita untuk novel digital. Nasib buku fisik tentu akan berubah menjadi digital sedangkan generasi penerus tak berkesempatan mengetahui keunikan dari membaca buku.

Melihat sejauh ini banyak sekolahan sudah menerapkan sistem digitalisma pada proses belajar mengajar, tentu saja bukunya pun akan diberikan dalam bentuk digital. Hal tersebut tanpa disadari sudah merupakan usaha menyingkirkan buku fisik secara perlahan melalui kemajuan digitalisme di dunia ini tidak hanya Indonesia saja.

3. Banyak Perusahaan Penerbitan Buku di Ujung Tanduk

Source : duniadosen.com
Source : duniadosen.com

Sekarang ini ada banyak sekali perusahaan penerbit buku, dari startup hingga sudah merintis lama menghasilkan karya sastra termasuk novel. Sayangnya semakin menurunnya tingkat ketertarikan pada buku mereka juga akan berada di ujung tanduk. Di sekitar penulis sudah banyak sekali toko buku yang diklaim mengalami kebangkrutan.

Entah memang karena pembelinya kian menurun tetapi pengeluarannya untuk membayar karyawan dan lain-lain terus jalan, atau pembaca buku sudah mulai menipis. Namun hal itu menjadi sebuah alarm bagi perusahaan penerbitan harus lebih pintar mengikuti perkembangan zaman karena jika tidak perusahaan Anda sudah benar-benar mendekati ajalnya.

4. Toko Buku Ternama Menjadi Kenangan

Dulu sewaktu belum ada kemajuan digitalisme, banyak sekali toko buku ternama yang menjadi andalan beberapa pemuda dan pemudi memburu bacaan seperti karya sastra hingga komik. Bahkan banyak sekali persewaan komik, menyediakan banyak buku dari novel ternama karya J.K. Rowling, Harry Potter sampai novel langka juga ada.

Sayangnya kenangan tersebut akan benar-benar hanya menjadi kenangan ketika peminat buku sudah mulai menurun. Oleh sebab itu marilah mulai lagi membudayakan membaca agar buku tetap terus berkembang, mengingat saat ini penulis bahkan berjasa dalam memberikan adaptasi film di Indonesia juga mancanegara.

5. Buku-buku akan ditumpuk di Dalam sebuah Gudang

Nasib buku selanjutnya tentu saja hanya akan ditumpuk di dalam sebuah gudang karena memang sudah tidak dibutuhkan lagi. Oleh sebab itu banyak mereka yang pada akhirnya menumpuknya ke dalam gudang begitu saja. Hal tersebut juga akan dilakukan oleh pihak toko buku bangkrut, bahkan sebagian akan membakarnya habis. Sayang sekali.

6. Tidak Ada Lagi Pecinta Karya Sastra Asli dan Nyata

Menurunnya pecinta buku tentu saja akan mengakibatkan menurunnya pula bahkan tidak akan ada lagi pecinta karya sastra asli dan nyata. Bisa dibilang buku dalam bentuk digital ini sulit dikatakan long lasting, mengingat penggunaan sistem akan kapan saja bisa menghilangkan sebuah tulisan. Itulah mengapa pecinta karya sastra tidak akan ada lagi.

Sampai saat ini mungkin masih banyak dari mereka yang menyukai buku, namun jika dibandingkan dengan mereka yang tidak menyukainya lebih sedikit. Ayo kawan mulai lagi membaca dengan minat masing-masing topik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak Kalah Menarik