Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Mengulas Dampak dan Alasan Kurang Disetujuinya Belajar Mengajar secara Daring

Dengan adanya pandemi Covid-19, selama hampir 2 tahun belakangan ini sekolah diadakan secara daring sehingga tidak ada tatap muka sama sekali di sekolahan. Hal tersebut sudah menjadi salah satu bukti bahwa kemajuan teknologi berdampak pada proses pemberian pendidikan, sayangnya tidak semua orangtua setuju.

Beberapa Ulasan Dampak dan Alasan Kurang Disetujuinya Belajar Mengajar secara Daring

Mengingat Indonesia masih sebagai negara berkembang menjadi salah satu alasan mengapa tidak semua orangtua setuju dengan pemberian proses pendidikan dengan teknologi maju secara daring misalnya. Hal tersebut menimbulkan banyak keresahan sehingga berikut beberapa poin penyebab dan dampaknya.

1. Pemberian Proses Belajar Mengajar tidak Bisa Maksimal

Source : solopos.com
Source : solopos.com

Pada dasarnya proses belajar mengajar yang dilakukan secara daring memang tidak bisa menjamin anak-anak dapat memahami materinya secara maksimal. Hal tersebut karena keterbatasan media yang digunakan akhirnya menyebabkan ketidaknyamanan. Terlebih lagi ketika mereka hanya bisa melakukan daring melalui HP.

Hal tersebutlah yang menjadikan sebab ketidaknyamanan anak-anak dalam melakukan proses belajar mengajar. Sayangnya tidak semua orangtua bisa atau mampu menyediakan media lebih mumpuni dalam mendukung kegiatan pembelajaran daring tersebut sehingga kurang nyamannya gadget menjadi gangguan kurang nyamannya saat belajar.

2. Tidak Semua Orangtua Mampu Menyediakan Jaringan Internet

Source : republika.co.id
Source : republika.co.id

Selain media gadgetnya, tidak semua orangtua mampu menyediakan jaringan internet setiap harinya. Mengingat dalam melakukan proses belajar mengajar membutuhkan kuota yang tidak sedikit karena biasanya dilakukan melalui video call seperti google meeting, zoom dan lainnya. Beberapa masyarakat mengeluhkan tentangnya.

Tidak heran karena memang dengan adanya pembelajaran secara daring, tentunya orangtua harus selalu menyediakan jaringan internet yang mumpuni. Sedangkan tak semua dari mereka masuk ke dalam golongan orang mampu, sehingga merasa terbebani. Namun pemerintah sudah berusaha dengan memberikan bantuan kuota gratis.

3. Anak-anak Menjadi Tidak Terlalu Fokus terhadap Pelajaran

Source : pinterest.com
Source : pinterest.com

Dengan menggunakan media seperti gadget dalam melakukan proses belajar mengajar, tentunya membuat beberapa anak menjadi tidak terlalu fokus terhadap pelajaran. Saat terjadinya sekolah tatap muka saja kemungkinan mereka kekurangan fokusnya sangat tinggi, apalagi jika harus melakukannya melalui online.

Dunia mereka memang masih masa-masa bermain dengan teman-temannya, sehingga terkadang ketika menjalani sekolah secara online fokusnya kesana. Mengingat mereka memang mempunyai waktu lebih banyak bebasnya daripada ketika di sekolah, oleh sebab itulah mempertahankan fokus terhadap pelajaran cenderung sulit.

4. Bermain Gadget dijadikan Kedok Belajar secara Daring atau Online

Source : okezone.com
Source : okezone.com

Hal ini seringkali terjadi, kembali lagi karena memang anak-anak sedang pada masanya bermain sehingga ketika memegang gadget ada kemungkinan bukan belajar tetapi bermain. Lalu bagaimana menghindarinya? Tentu saja dengan perhatian lebih dari orangtua ketika waktunya belajar harus benar-benar terpantau.

Bukannya berbohong tetapi terkadang mungkin proses belajar mengajarnya sudah selesai tetapi mereka masih stay memegang gadget alih-alih belajar, malah bermain game misalnya. Hal tersebut sebenarnya sulit dijauhkan karena pada dasarnya memang itulah dunia mereka, sehingga memang poin ini sulit untuk dihindari.

5. Belum Semua Anak-anak Mampu Mengikuti Pembelajaran Singkat secara Online

Source : medkomtek.com
Source : medkomtek.com

Seperti diketahui bahwa pembelajaran secara online memang waktunya cenderung sangat sebentar, sehingga terkadang hal tersebut juga menjadi halangan bagi anak-anak dalam mengikuti pembelajarannya. Tidak sedikit guru yang ternyata sebenarnya juga kesulitan dalam memberikan materi secara daring.

Namun mau tidak mau harus selalu bisa memberikan cara terbaik agar murid-muridnya tetap bisa mengikuti pembelajaran layaknya ketika sekolah offline atau tatap muka. Namun yang jelas dampak dan alasan tidak disetujuinya belum semua anak-anak mampu mengikuti belajar mengajar secara singkat dan online.

6. Keterbatasan Media Pembelajaran di Rumah

Source : kompasiana.com
Source : kompasiana.com

Sudah dibahas sebelumnya bahwa keterbatasan media pembelajaran di rumah menjadi salah satu sandungan selain kuota internet. Tingkat kemampuan seseorang dalam menyediakan media-media pembelajaran tidak bisa selalu diandalkan karena semua akan kembali pada pendapatan orangtuanya.

Seperti diketahui tidak semua orangtua mampu memberikan media terbaik untuk melakukan proses belajar mengajar secara daring. Sedangkan jika hanya menggunakan HP terasa kurang nyaman, oleh karena itulah poin ini juga menjadi dampak serta alasan kurang disetujui namun harus dilakukan.

Terlepas dari semua dampak dan alasan di atas, pada dasarnya semua akan dikembalikan lagi pada kemampuan anak-anak serta dukungan terbaik dari orangtuanya. Hal tersebut akan menghasilkan proses pembelajaran yang sempurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak Kalah Menarik